Komunikasi Produktif-hari ke 10

Standard

Alhamdulillah akhirnya sampai ke hari ini. Hari ini aku mulai lagi muraja’ah Hafalan Alqur’an. Dan aku dan suami sepakati untuk setoran setelah dia pulang ta’lim.

Tapi ternyata setelah pulang ta’lim dia langsung mengajar dan terlupakan lah jadwal setoran tersebut. Hal ini sering sekali terjadi, da berulang ulang dia melupakan kesepakatan yang sebelumnya sudah dibuat tanpa ada konfirmasi perubahan waktu atau dibatalkan.

1. Choose the right time
Akhirnya aku kesal dan meredam kesalku lalu berusaha berfikir jernih untuk memilih waktu berbicara padanya, yaitu malam.

2. Clear and clarify

Setelah solat maghrib aku pun berbicara padanya dengan bahasa yang tak menyalahi dan dengan bahasa yang jelas agar dia pun tidak merasa bersalah dan faham maksudku. Aku berkata padanya kalau aku ingin setoran. Lalu dia ingat bahwa seharusnya setoran itu dilakukan siang hari sesuai dengan kesepakatan. Tapi aku menjawabnya dengan lembut..’gapapa, diganti sekarang aja ya’. Akhirnya dia setuju dan langsung menyimak bacaanku..

Setelah itu kami makan malam.

Berkomunikasilah tanpa emosi!

#harike10
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Advertisements

Komunikasi Produktif-hari ke 9

Standard

Hari ini adalah hari asysyura dan bertepatan dengan hari perayaan hafalan kitab kuning khusus bagi santri yang dibimbing suamiku.
Kami berdua harus menyiapkan perayaan tersebut. Karena ada miskomunikasi dengan ibu mertua, maka mendadak sore itu aku bergegas memulai memasak. Ditengah tengah memasak suamiku datang ke dapur dan langsung meminta pekerjaan. Dia berminat untuk membantuku.

Karena aku sibuk dengan yang lain, aku meminta tolong padanya untuk membawakan wajan dengan isyarat tunjuk ‘itu itu.. Itu loh katel’ waktu aku mengatakan ‘itu itu’ saja dia tidak faham, ditambah lagi aku menggunakan kata katel, rupanya dia pun tak faham. Hal ini berefek pada waktu memasak, sehingga waktu memasak menjadi lebih lama.

Hikmah yang dapat aku ambil dari kejadian tersebut adalah berkomunikasi melibatkan 2 pihak, dan tidak dapat berjalan dengan baik, komunikasi yang tidak ada ‘clear and clarify’ di dalamnya.
Menganggap lawan bicara kita faham semua yang kita inginkan tanpa komunikasi yang jelas itu adalah kesalahan besar.

Mari perbaiki komunikasi, gunakan susunan kata dan bahasa yang orang mengerti, sebelum bicara tempatkan diri sebagai lawan bicara kita, agar kita faham apa yang ditangkap lawan bicara kita ketika berbicara dengan kita.

#harike9
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif- hari ke 8

Standard

Hari ini sesaat sebelum tidur aku memperlihatkan kepada suamiku status teman atau saudaraku yang posting tentang tingkah lucu anak mereka. Setelah itu kami tertawa bersama sampai akhirnya kami saling bertatap.

1. Intensity of eye contact

Tanpa berucap aku terus menatapnya. Aku yakin dia faham apa yang aku maksud. Setelah itu dia benar benar berhenti tertawa, lalu wajahnya menjadi wajah berempati dan segera setelah itu ia memelukku sambil mengusap punggung. Tak ada ucapan sedikitpun, hanya hati yang saling berbicara.

Ia tahu aku sangat ingin menjadi ibu. Bahkan impian aku adalah menjadi ibu. Setiap melihat bayi atau anak kecil pasti aku langsung baper. Dan ia yang selalu menguatkan untuk terus bersabar dan berdoa.

Ya Allah.. Rabbanaa innaa limaa anzalta ilaina min khairin faqiiir.. Aamiin

#harike8
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif – hari ke 7

Standard

Hari ini suamiku pergi penataran dan menginap 1 malam di hotel. Aku seperti merasakan LDM yang dulu sewaktu ia masih di yaman. Aku mager banget karna ga ada orang yang bisa aku urusin. Tapi kalau dia ada, aku omel-omelin. Haha..
Ia menghubungiku di waktu waktu senggangnya. Ketika ia berbicara via telpon seperti itu, aku selalu jadi pendengar yang baik.

1. Clear and clarify

Biasanya aku pancing ia bercerita dengan pertanyaan yang singkat dan mudah dimengerti. Biasanya setelah itu ia akan bercerita panjang lebar tentang keadaannya, tentang acaranya, dan tentang yang lainnya. Lalu aku tanggapi dengan pertanyaan dan pernyataan yang jelas dan mudah dimengerti pula.

2. Choose the right time

Aku memintanya menghubungiku di waktu ia luang. Jika mengandalkan aku yang menghubunginya terlebih dahulu itu sulit, karna aku tak tahu jadwal dia, sedangkan ia tahu jadwal aku. Jadi aku meminta dan kami sepakati untuk menghubungi di waktu yang tepat, yaitu waktu disaat ia lapang.

Btw.. Jika kami berkomunikasi disaat LDM tanpa kesepakatan, maka ada tanduk dan taring yang keluar dari kepala dan mulutku. Haha. Karna aku ngomel-ngomel jika ia tidak menghubungiku atau tidak menghubungi diwaktu yang sudah disepakati. Wkwkwk

3. I’m responsible for my communication result

Karena aku sering ngomel jika terjadi miskomunikasi diantara kami, maka berefek sekali padanya. Biasanya di akhir pembicaraan Ia mengulang-ulang mengatakan bahwa dia akan menghubungi lagi di jam ‘sekian’ atau dia tidak bisa menghubungi lagi. Maka jika dia sudah mengulang ulang berbicara tentang waktu berkomunikasi, aku cekikikan dan langsung aku jawab dengan lembut ‘iya sayang, gpapa kok’ dan aku ga akan marah setelah itu jika memang ternyata dia tidak menghubungiku karena lupa atau tidak bisa. Karena aku ingat rasa bersalah saat di akhir pembicaraan kami tsb.

#harike7
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif- hari ke 6

Standard

Hari ini aku bersama suami pergi ke rumah mertuaku. Seperti biasa kami selalu berbincang-bincang jika bertemu.
Tiba-tiba ibu mertuaku bertanya pada suamiku perihal boleh tidaknya aku menjadi dosen. Sesaat setelah pertanyaan itu disampaikan, suamiku terdiam beberapa saat. Lalu menjawab dengan gelengan kepala, tak lama ia bertanya padaku sambil menatap mataku :

1.intensity of eye contact

‘kamu mau ngajar emangnya? ‘. Melihat matanya dengan tatapan ‘cemas’ membuat aku tak mampu berucap. Tak lama aku menjawab sambil tertawa kecil seolah bercanda :

2. Clear and clarify
’emang boleh sama kamu? ‘ lalu dia terdiam sebentar dan melanjutkan ‘hmm.. Ga usah lah’. Lalu aku menjawab dengan senyuman agar ia tak cemas lagi dan berkata ‘ya udah gapapa, ga ngajar kok’. Akhirnya wajahnya pun tak cemas lagi.

Aku tak berani marah untuk masalah ia yang melarangku mengajar ‘pria yang sudah baligh’. Aku tahu sekali maksudnya. Karna ia sayang padaku, makanya ia memilih untuk melindungiku dan melakukan syariat dengan kaffah. Sekalipun banyak sekali yang mencibir, menggibah, hingga nyinyir, tapi ia tetap pada prinsipnya. Aku tak bisa menambah beban di hati dan pikirannya, karena sudah banyak sekali orang yang mencibir dan nyinyir pada keputusannya ini.

Ya Allah.. Semoga ini keputusan yang terbaik dan aku tetap bisa bermanfaat bagi orang banyak dengan cara yang berbeda tetapi tetap pada syariatMu. Aamiin

Waallahu a’lam.

#harike6
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif-hari ke 5

Standard

Hari ini aku kesal karena suami meletakan sarung bukan pada tempatnya. Setelah aku hitung, ada 5 sarung yang ada di luar keranjang ‘baju kotor’. Itu artinya ada banyak sarung yg harus dicuci. Ini kebiasaan buruk suamiku yang ga aku suka. Karena selain meletakkannya ga di keranjang, tapi juga meletakkannya ga rapih dan seenaknya. Biasanya kalau begini aku suka kesel banget dan ngomel-ngomel. Dan memang benar aku kesel banget saat itu. Tapi Alhamdulillah nya aku masih bisa berfikir dingin, lalu berfikir dan mengingat materi emosi vs nalar. Emosi tinggi sama dengan tidak ada komunikasi.

Lalu aku bernafas dalam dalam dan mendinginkan otak. Lalu mencari waktu yang tepat untuk bicara padanya (choose the right time). Aku pilih waktu sehabis makan siang dan itu pun tak disengaja. Lalu perlahan aku bicara dengan kalimat yang tidak menyalahkan dan mudah dimengerti (clear and clarify).

Istri : pa, itu aku lihat ada 5 sarung yang dipake bergantian, banyak banget pa, apa ga ada yang kotor dan siap cuci?

Suami : (merasa bersalah) oiya, maaf ya. Yang biru dan putih kotor sayaang (dengan ramah ia bicara)

Istri : ooh, oke. Nanti-nanti jangan lupa disimpan di keranjang baju kotor ya sayang (dengan hangat menjawab).

Suami : iya sayang 🙂

Akhirnya kami melanjutkan kegiatan dengan beristirahat sehabis makan siang.

#harike5
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif-hari ke 4

Standard

Hari ini suamiku menyampaikan unek-unek nya, padahal biasanya ga pernah.

1.clear and clarify
Dia berbicara perlahan dan begitu jelas agar aku mengerti maksudnya. Dia mengatakan kalau dia ga suka dengan pemilihan kata yang aku pakai jika meminta sesuatu. “Misalnya :jangan bilang ‘kenapa sih idrus ga gini ga gitu, ga kaya cowo lain, dll'”. Katanya bila aku meminta dengan bicara begitu itu seperti menuntut, bukan minta biasa.

Lalu dia melanjutkan, katanya “coba pakai kalimat ajakan.. ‘idrus, gini yuk, gitu yuk’.

Setelah itu aku cekikikan karna menganggapnya lucu, karna aku selama ini sering nuntut dia. Huhi
Akhirnya aku mengangguk dan tersenyum..

2. Intensity of eye contact
Sambil menatap lebih dalam dr sebelumnya, dia bilang kalau sikap aku yg tidak menyenangkan itu membuatnya tertekan. Lalu aku minta maaf dan terdiam. Lalu dia menjawab dengan baiknya, dia bilang ‘iya gapapa kok, cuma kata2 n caranya aja yg diganti, biasa aja kok perasaan mah’. Setelah itu kami tersenyum dan bertatap, lalu tak lama kami tidur

3. Choose right time
Ya, dia memilih waktu diskusi sehabis makan siang dan selagi leyeh leyeh setelah makan. Ini adalah salah satu waktu kita yang efektif, karna dia lg istirahat dari mengajar dan aku istirahat dari pekerjaan rumah.

Disini hikmah yang didapat adalah :
– jaga emosi!
– jangan berburuk sangka!

#harike4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional